Kamis, 24 Februari 2011

Oh no temen gue PENUSUK loh

Menurut saya, istilah ‘teman’ saat ini sudah mengalami perluasan makna (generalisasi). Bahkan dua orang yang tidak saling mengenal, tak pernah bertatap muka, juga tak pernah ada interaksi sebelumnya dapat disebut ‘teman’ hanya karena permohonan ‘pertemanan’ di situs jejaring sosial seperti Facebook telah di-approve oleh si empunya FB.
Ok. Lalu, bedanya dengan teman baik? Jelas beda lah.. Saya mengenal beberapa orang di sekitar saya. Yang menyempatkan diri menemani saya menikmati kopi di coffee-shop, menanggapi bawel dan ribetnya curhat saya, membawakan makanan karena yakin tak akan mampu membuat saya meninggalkan deadline, tiba-tiba datang dengan satu kotak es krim saat saya sedih, pun juga ada yang bersedia menemani saya nonton konser jazz walaupun selera musiknya hardcore. Di saat yang sama, mereka tak pernah ragu menjewer telinga saya saat saya merajuk pergi ke resto seafood karena tahu akan vonis alergi yang saya dapat sejak tahun lalu. Memarahi saya habis-habisan saat sifat pelupa saya kambuh. Mereka bahkan bisa dengan terang-terangan mengkritik sikap yang patut dan tidak patut saya lakukan. Untuk mereka, orang-orang terbaik di kehidupan saya, saya menyebut mereka : teman baik.
Saya selalu percaya, semua orang dilahirkan sebagai orang baik. Salah satu keyakinan saya yang membuat teman-teman baik saya selalu was-was :D Namun hidup bukan negeri dongeng. Banyak tokoh antagonis di luar sana. Awalnya sih sempat syok bertemu dengan orang-orang seperti itu. Namun lama-lama, biasa saja. Cerita tentang beberapa teman yang tidak baik pun sering terdengar di telinga, termasuk tentang teman-teman yang ‘MENUSUK DARI BELAKANG’. Yang paling sering terjadi, biasanya teman-teman tipe ini BERMUKA DUA. Di DEPAN kita, semua tampak biasa saja bahkan terkesan ‘MANIS’. Tapiiiii, kalau di BELAKANG kita sukanya malah HOBI NGOMONGIN KITA, MEMBUKA AIB-AIB KITA. Dan ternyata tidak sedikit orang-orang yang seperti itu. Mungkin karena kebiasaan, atau juga karena tak pernah diingatkan. Yang kasihan jelas si korban yang kepercayaannya disalahgunakan ini. Aduh sinetron banget deh.
Bagaimana menghadapi teman ‘PENUSUK’ seperti ini?
Sabaaaaar!! Hehe. Mungkin, orang-orang seperti ini memang diciptakan untuk menguji tingkat kesabaran kita. Jangan langsung mengumbar emosi untuk menyerang mereka yang telah menyakiti hati. Tenangkan diri dulu, kemudian.. setelah cukup tenang, mampu mengendalikan emosi, dan berpikir jernih.. Coba ajak ketemuan si teman-tukang-tusuk (TTT) ini. Bukan untuk mencaci maki atau menjambak-jambak rambutnya. Tapi konfirmasi tentang tindakan TTT itu. Kalau kita teman yang baik, ingatkan si TTT bahwa apa yang dilakukannya salah. Jika si TTT meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya, berikan TTT kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Tapi kalau si TTT malah sok-ga-tau-apa-apa, haduuu.. tinggalkan saja teman seperti itu.
Thanks God, saya dikelilingi teman-teman baik :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar